m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbarm. faidul akbarm. faidul akbarm. faidul akbarm. faidul akbarm. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbarm. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
m. faidul akbar
Minggu, 24 Juli 2011
PONPES NW PADASUKA
ISLAM SANGAT MENAKJUBKAN
OLEH M. FAIDUL AKBAR
Daily Telegraph
Tolga Cifci, salah satu tersangka pelaku penyerangan dan pecambukan terhada Christian Martinez
TERKAIT :
Mualaf Australia yang Dicambuk Sesama Muslim Tetap Yakin Islam Agama Indah
Kamis, 21 Juli 2011 17:49 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, SIDNEY - Seorang warga Australia yang baru-baru ini memeluk Islam mengalami 'hukuman cambuk' dari empat kawan Muslim yang membobol masuk rumah dini hari sebelum Fajar. Alasanya Martinez dianggap layak dihukum karena menenggak alkohol.
Terlepas itu, Chris Martinez mengatakan komunitas Muslim Australia selalu mendukungnya. Ia juga mengaku mengalami masalah dalam mengatasi kebiasaannya dengan minuman keras dan ia sempat mabuk di hari sebelum ia dicambuk.
"Saya memang punya masalah dengan minum yang ingin saya atasi," aku Martinez. "Saat itu saya minum bersama teman hingga pagi. Saya tidak pasti bagaimana, yang jelas seseorang pasti telah melihat saya minum." tuturnya.
Martinez, 31 tahun, berkata ia lalu tidur pagi hari usai Subuh dan terbangun untuk menyaksikan temanya bersama tiga lelaki lain mengingatkan bahwa 'saya akan mendapat 40 cambukan sebagai hukuman karena minum alkohol".
"Pertama saya pikir ia bergurau. Tapi begitu mereka menarik tubuh saya untuk tengkurap, saya tahu mereka serius. Mereka mulai mencambuk saya. Saya menangis, berteriak berulang kali karena sakit. Ia dicambuk 40 kali menggunakan kabel selama sekitar 30 menit.
Martinez mengklaim bahwa mereka yang melakukan serangan terhadap dirinya berasal dari sekte Wahabi yang menyebar dan berakar di Arab Saudi. Komunitas Muslim di Sidney pun mengutuk serangan sepihak tersebut.
Ahmed Kilami dari MuslimVillage.com berkata, "Saya harap orang-orang ini ditangkap dan menghadapi ganjaran setimpal dengan perbuatannya."
Martinez sendiri telah pindah dari rumahnya. Namun ia tetap berharap pengalamannya tidak membelokkan pandangan publik terhadap agama barunya.
"Islam adalah agama yang indah, ia adalah panduan luar biasa bagi kehidupan, cara nyata untuk menjalani hidup," ujarnya. "Maksud saya, saya tidaklah sempurna," ujar Martinez. "Tapi saya tegaskan Islam telah membantu saya melalui semua hal, semua masa lalu saya, dan kini saya meyakini saya menjadi orang baik karena Islam." ujar Martinez yang beralih menjadi Muslim tiga tahun lalu.
"Kejadian yang saya alami itu adalah hasil perbuatan individu, bukan agama."
Martinez mengatakan istrinya pun turut kesal dengan serangan itu, yang kini tengah diselidiki oleh Kepolisian New South Wales, Australia. Untungnya, istri dan anaknya tidak ada ditempat saat dicambuk. Tetangga yang mendengar ia menjerit kesakitan dan menangis itulay yang menelpon polisi.
Usai penyerangan itu, Martinez menuturkan telah beberapa kali menolak uang dari 'media besar' untuk menuturkan kisahnya. "Saya merasa menjadi korban dua kali dari gangguan dan ancaman pemerasan," ujarnya.
Dua penyiksa Martinez, Wassim Fayad, 43 tahun, dan Tolga Cifci, 20 tahu, kini ditahan dengan jaminan pembebasan atas tuduhan melanggar dan memasuki properti secara ilegal dengan niat menyerang dan melukai orang lain.
Polisi, kepada pengadilan Sydney berkata Fayad telah berencana menyerang Martinez sebagai hukuman yang ia anggap sejalan dengan keyakinan agamanya. Hukuman itu, kata Polisi, dilakukan Fayad juga atas sikap Martinez yang terus berkumpul dengan komunitas lamanya, yang dianggap si pecambuk 'jahiliyah'.
Fayad juga mencuri semua bir dan hard drive yang berisi rekaman CCTV dari rumah Martinez saat membobol masuk, demikian ungkap polisi. Mereka akan disidang ke pengadilan pada 14 September
Terlepas itu, Chris Martinez mengatakan komunitas Muslim Australia selalu mendukungnya. Ia juga mengaku mengalami masalah dalam mengatasi kebiasaannya dengan minuman keras dan ia sempat mabuk di hari sebelum ia dicambuk.
"Saya memang punya masalah dengan minum yang ingin saya atasi," aku Martinez. "Saat itu saya minum bersama teman hingga pagi. Saya tidak pasti bagaimana, yang jelas seseorang pasti telah melihat saya minum." tuturnya.
Martinez, 31 tahun, berkata ia lalu tidur pagi hari usai Subuh dan terbangun untuk menyaksikan temanya bersama tiga lelaki lain mengingatkan bahwa 'saya akan mendapat 40 cambukan sebagai hukuman karena minum alkohol".
"Pertama saya pikir ia bergurau. Tapi begitu mereka menarik tubuh saya untuk tengkurap, saya tahu mereka serius. Mereka mulai mencambuk saya. Saya menangis, berteriak berulang kali karena sakit. Ia dicambuk 40 kali menggunakan kabel selama sekitar 30 menit.
Martinez mengklaim bahwa mereka yang melakukan serangan terhadap dirinya berasal dari sekte Wahabi yang menyebar dan berakar di Arab Saudi. Komunitas Muslim di Sidney pun mengutuk serangan sepihak tersebut.
Ahmed Kilami dari MuslimVillage.com berkata, "Saya harap orang-orang ini ditangkap dan menghadapi ganjaran setimpal dengan perbuatannya."
Martinez sendiri telah pindah dari rumahnya. Namun ia tetap berharap pengalamannya tidak membelokkan pandangan publik terhadap agama barunya.
"Islam adalah agama yang indah, ia adalah panduan luar biasa bagi kehidupan, cara nyata untuk menjalani hidup," ujarnya. "Maksud saya, saya tidaklah sempurna," ujar Martinez. "Tapi saya tegaskan Islam telah membantu saya melalui semua hal, semua masa lalu saya, dan kini saya meyakini saya menjadi orang baik karena Islam." ujar Martinez yang beralih menjadi Muslim tiga tahun lalu.
"Kejadian yang saya alami itu adalah hasil perbuatan individu, bukan agama."
Martinez mengatakan istrinya pun turut kesal dengan serangan itu, yang kini tengah diselidiki oleh Kepolisian New South Wales, Australia. Untungnya, istri dan anaknya tidak ada ditempat saat dicambuk. Tetangga yang mendengar ia menjerit kesakitan dan menangis itulay yang menelpon polisi.
Usai penyerangan itu, Martinez menuturkan telah beberapa kali menolak uang dari 'media besar' untuk menuturkan kisahnya. "Saya merasa menjadi korban dua kali dari gangguan dan ancaman pemerasan," ujarnya.
Dua penyiksa Martinez, Wassim Fayad, 43 tahun, dan Tolga Cifci, 20 tahu, kini ditahan dengan jaminan pembebasan atas tuduhan melanggar dan memasuki properti secara ilegal dengan niat menyerang dan melukai orang lain.
Polisi, kepada pengadilan Sydney berkata Fayad telah berencana menyerang Martinez sebagai hukuman yang ia anggap sejalan dengan keyakinan agamanya. Hukuman itu, kata Polisi, dilakukan Fayad juga atas sikap Martinez yang terus berkumpul dengan komunitas lamanya, yang dianggap si pecambuk 'jahiliyah'.
Fayad juga mencuri semua bir dan hard drive yang berisi rekaman CCTV dari rumah Martinez saat membobol masuk, demikian ungkap polisi. Mereka akan disidang ke pengadilan pada 14 September
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Sumber: Spero News
<a href='http://i.republika.co.id/www/delivery/ck.php?n=aa6eac1c&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://i.republika.co.id/www/delivery/avw.php?zoneid=177&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aa6eac1c' border='0' alt='' /></a>
3769 reads Isi Komentar
<a href='http://i.republika.co.id/www/delivery/ck.php?n=a34ed5da&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://i.republika.co.id/www/delivery/avw.php?zoneid=176&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a34ed5da' border='0' alt='' /></a>
<a href='http://i.republika.co.id/www/delivery/ck.php?n=a8a37968&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://i.republika.co.id/www/delivery/avw.php?zoneid=210&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a8a37968' border='0' alt='' /></a>
<a href='http://i.republika.co.id/www/delivery/ck.php?n=aa0aaaa0&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://i.republika.co.id/www/delivery/avw.php?zoneid=206&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=aa0aaaa0' border='0' alt='' /></a>
<a href='http://i.republika.co.id/www/delivery/ck.php?n=a450945d&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://i.republika.co.id/www/delivery/avw.php?zoneid=196&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=a450945d' border='0' alt='' /></a>
<a href='http://i.republika.co.id/www/delivery/ck.php?n=af9cb020&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://i.republika.co.id/www/delivery/avw.php?zoneid=207&amp;cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp;n=af9cb020' border='0' alt='' /></a>
PONPES NW PADASUKA
LIHAT KEAJAIBAN ISLAM
OLEH M. FAIDUL AKBAR
JR. Farrell
TERKAIT :
Dulu JR Farrel Sangat Benci Muslim, Kini Islam adalah Hidupnya
Selasa, 19 Juli 2011 14:28 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JR Farrell masih mengingat betul masa kecilnya, bagaimana kedua orang tuanya bertengkar gara-gara uang, situasi kehidupan dan perkara-perkara lain. Tak hilang pula dari kenangannya saat ia mesti hidup di rumah-rumah sosial di sisi selatan Chicago, hampir tanpa apa pun untuk dimakan.
"Dengan keluarga beranggotakan 10 orang, sulit bagi ayah saya untuk menopang hidup sesuai dengan cara yang paling diinginkan,'tuturnya.
Masa muda yang sulit
Ayah Farrell --berdarah campuran Jerman dan Irlandia--adalah pekerja keras tapi juga pemabuk. Meski kerap memukuli ibunya, arrell mengaku masih mencintai ayahnya.
Setiap kali pulang dalam kondisi mabuk dan kesal terhadap sesuatu ia akan mendatangi Farrell dan adik-adinya serta menimpakan semua lewat pukulan hingga tak ada yang bisa dilakukan. Farrell kerap tak bisa berjalan atau bernafas gara-gara siksaan tadi. Begitu pun bila kakak lakinya mengoceh dan jengkel ia pun akan menerima serangan fisik. "Itulah sebagian besar masa kecil saya." kenang Farrell
Masuk masa remaja, semua yang ada di sekitar Farrell mulai menggoda, teman wanita, minuman, klub malam, obat-obatan dan yang lain. "Tapi entah saya tak bisa, saya melarang diri untuk terlibat dalam semua tadi. Saya hanya merasa itu tidak benar."
Salah satu adiknya ternyata adalah pengedar narkoba terbesar di Chicago. Hampir setiap hari ia membawa jenis obat-obatan ke rumah untuk dijual eceran di lingkungan sekitar. Si adik paham betul pandangan Farrell.
Begitu adiknya tak berada di rumah, Farrell membuang semua obat-obatan senilai 1000 dolar ke toilet dan mengguyurnya. Saat pulang dan mengetahui itu, adiknya, tutur Farrell, sangat bernafsu membunuhnya. "Ia mungkin akan membunuh saya bila memiliki kesempatan. Tentu saya dibela orangtua karena saya lebih tua dan saya dianggap harus mengajarinya untuk lebih baik.
Pencarian Pengetahuan
Semua peristiwa dalam masa kecil hingga remaja membuat Farrell menyadari betapa rapuh kehidupan. "Saya tak ingin mati sebagai idiot, jadi saya mulai belajar apa pun dan semuanya." tutur Farrell.
"Satu hal yang patut diketahui tentang keluarga saya, mereka sangat kompetitif terhadap satu dan yang lain. Begitu mereka melihat salah satu anggota lebih maju maka mereka ingin menghentikan anda dari jalur dan membuat anda tak bisa melangkah lebih maju," ujarnya.
Mengetahui antusias Farrell, orangtuanya cemas. Mereka mengkhawtirkan ia akan tercuci otak atau mengikuti aliran atau mengkultuskan sesorang. Mereka benar. Pada 1994, Farrell menjadi Nazi. Ia mengaku saat itu menyukai fakta bahwa Hitler memiliki kendali atas ribuan orang. "Menjadi Nazi, membuat saya merasa penting, menjadi seseorang." Untuk satu ini, ayahnya tak menentang, justru senang dengan seluruh pemikiran Farrell.
Ada alasan mengapa ayah Farrell suka dengan gagasan Nazi. Sedikit ke belakang pada 1960-an, ketika Martin Luther King Jr. mulai membakar semangat orang-orang dengan 'mimpinya', ayah Farrell menrencanakan menyingkirkan semua warga kulit hitam dari area pertanian Chicago.
Satu fakta, ketika Martin Luther King Jr bersama pendukungnya turun ke jalan di sisi barat Chicago, ayahnya telah mengorganisir massa. Geng itu tak hanya membuat kulit hitam keluar kota, tetapi juga memicu perang antara kulit putih dan kulit hitam. Hari itu pula, ayah Farrell menghantam hidung Martin Luther King dengan batu bata, dan hingga kini, tutur Farrell, ia selalu berkoar-koar tentang itu.
Lama setelah itu, tahun 1997, keluarganya beserta Charles Mason memulai lagi misi rahasia. Farrell berda di sana ketika mereka mengorganisir serangan terhadap bocah kulit hitam berusia 11 tahun yang tak sengaja berjalan di lingkungan kulit putih Chicago. Mereka, tutur Farrel, bisa membunuh si bocah setelah menganiayanya habis-habisan, namun memilih meninggalkan ia berdarah-darah sebagai tanda peringatan. Setelah menyaksikan itu, Farrell merasa gagasan Nazi dan semua berbau ras tak lagi cocok dengannya.
Titik Balik
Pada 1995, Farrell bertemu dengan wanita pertama yang membuat ia jatuh cinta. Meski ia memiliki kesempatan untuk berbuat apa pun dengan gadis tersebut, lagi-lagi ia melarang dirinya. "Saya tidak bisa, saya tak membolehkan diri saya untuk memiliki hubungan intim dengan seseorang yang tidak saya nikahi." ujarnya.
Beberapa bulan setelah itu ia melamar kekasihnya. Mereka bertunangan tanpa sekalipun berhubungan seksual, sesuatu yang tidak biasa di kalangan barat. "Kami berdua paham bahwa akan banyak masalah bila kami lakukan itu," tutur Farrell.
Saat bersama kekasihnya ia mulai lebih fokus. Farrell terus belajar dan belajar. "Saat itu saya merasa ada sesuati yang hilang dan mulai menyadari kehidupan dan tujuan saya hidup, hanya saja saya tak bisa menunjuk pasti," tutur Farrell.
Semakin ia membaca, semakin besar pula upaya orang tuanya untuk menariknya mundur, seperti yang ia tuturkan soal keluarganya yang kompetitif. Orangtua Farrell mulai melakukan serangan mental. "Mereka mengatakan betapa buruknya saya waktu kecil dan bagaimana saya tidak berterima kasih sebagai anak atas makanan dan tempat berteduh yang mereka berikan untuk saya," tutur Farrell.
"Orang tua saya tak pernah lulus SMA. Mereka hanya sampai tingkat 8 lalu putus sekolah saat tingkat 9. Karena itu pendidikan orang tua saya terbatas. Semua yang mereka tahu hanyalah berdasar apa yang mereka lihat di TV dan perilaku orang-orang," kata Farrell.
Namun bukan berarti Farrell tak menghargai orangtuannya. "Saya memiliki rasa terima kasih besar terhadap apa yang mereka lakukan. Saya menghargai disiplin mereka," ungkap Farrell. Atas didikan mereka pula ia sudah mendapat pekerjaan pertama pada usia 12 tahun. Pada usia 13 ia sudah bekerja penuh waktu dengan pendapatan setara yang dihasilkan orangtuanya.
Pada usia 16 tahun ia telah memiliki apartemen pertamanya. Ia memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian, berbelanja sendiri. Farrell tengah bersiap menikah. Saat itu ia mengikuti pandangan orang tuanya yang menilai seseorang berdasar perbuatannya "Saya sepakat dengan orang tua saya, hingga kini," akunya.
"Namun itu pula yang membuat saya membenci Muslim dan Islam. Saya sungguh benar-benar membenci Muslim dalam tingkat yang tak anda percayai," ujarnya. Karena media? "Ya itu bagian dari propaganda, namun sebagian besar saya menilai itu karena ulah Muslim. Mereka kadang adalah pihak yang merusak reputasi Islam sehingga membenci kami. Itu menyedihkan tapi itu faktanya," ujar Farrell yang telah memeluk Islam.
Hadiah Paling Berharga
Pada 1997, tunangan Farrell memberinya Al Qur'an sebagai hadiah. "Semata-mata karena saya begitu suka membaca," tuturnya. "Sekedar memberitahu bagaimana dulu saya membenci Muslim, begitu ia memberi Al Qur'an kami bertengkar hebat dan kami putus hingga beberapa saat," kenang Farrell.
Akhirnya suatu malam ia mengambil kitab suci tersebut dan mulai membacanya. "Saya masih ingat betul saat itu, rumah begitu bersih, udara terasa enak dan nyaman, sorot lampu sungguh pas untuk membaca. Itu Alquran versi terjemahan Abdullah Yusuf Ali," tutur Farrell.
Ia membaca bagian awalan, tiga halaman pertama, dan, "Saya mulai menangis seperti bayi. Saya menangis dan menangis. Saya tak bisa menahan diri. Seketika saya tahu bahwa inilah yang saya cari selama lini. Saya seperti ingin memukuli diri sendiri, mengapa tak segera menemukan sejak dulu," ujar Farrell.
Ia merasa tersihir oleh bait-bait Al Qur'an. "Ini bukan Islam yang saya kenal. Ini bukanlah Arab, bukan sesuatu yang buruk yang saya pikir sebelumnya," kata Farrel. Ia merasa hidupnya dibungkus sepenuhnya dalam halaman-halaman tadi. Farrell menjumpai seperti membaca jiwanya dalam Alqur'an. "Sungguh indah, tetapi juga membuat saya menyesali diri. Setelah itu saya kembali menjalin hubungan dengan tunangan saya dan mendiskusikan banya hal secara dewasa," ujarnya. Tak lama setelah itu, Farrel dan tunangannya memeluk Islam dan beritikad untuk hidup sebagai Muslim, meski itu berarti tinggal terpisah.
Begitu orangtua Farrel mengetahui itu, pecahlah kemarahan mereka. "Ayah saya mengancam membunuh saya. Ia berkata, 'Kamu lahir Katholik, jadi tolong Tuhan, saya akan memastikan kamu mati sebagai Katholik,'". Reaksi ibu Farrell pun setali tiga uang.
Saat itu Farrell berhasrat besar untuk kuliah. "Saya ingin menempuh pendidikan formal. Saya dapat pekerjaan dan membayar semua kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan saya hingga ke perguruan tinggi," tuturnya.
Saat itu pula ia didepak keluar dari rumah dan Farrell pun tinggal di jalan selama 6 bulan. "Saya menyantap makanan dari tempat sampah, tidur di luar saat malam-malam terdingin, waktu itu tahun 1999," tutur Farrell.
Namun itu semua tak menyurutkan semangat Farrell. "Saya berjalan bermil-mil untuk bisa bersama Muslim. Saya dikejar keluar dari lingkungan tertentu oleh polisi hanya gara-gara masuk ke kawasan kulit hitam demi mengikuti shalat Jumat. Saya dilempari batu, diludahi, dikasari. Saya hanya ingin bisa bersama Muslim lain,"
Hingga suatu hari ia bertemu seorang teman yang kemudian membantunya. Si teman berkata, bila Farrell bisa membangun sebuah masjid dalam toko knalpotnya, maka ia bisa tinggal di sana hingga menemukan tempat lebih layak. Farrell pun setuju.
Toko itu memiliki ruang di tingkat dua, sekitar 186 meter persegi yang dipakai untuk gudang. Setiap hari Farrell menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuang sampah dan memindahkan pasokan inventaris. Dalam satu bulan ia telah menggarap setengah ruangan, membangun dinding, menambah jendela, memasang satu pintu, menggelar karpet, mengecat dan akhirnya membuka masjid toko knalpot pertama di Kota Chicago. "Saya belajar pertukangan dari paman saya. Itu adalah pekerjaan penuh waktu yang pertama." tuturnya.
Sekitar 6 bulan berikut ia berhasil mendapat satu pekerjaan lebih bagus dan pindah bersama dua teman ke apartemen baru. Tunangannya tak ada lagi dalam adegan hidupnya. "Kami telah setuju untuk hidup sebagai Muslim, bukan seperti orang bodoh. Saya lebih mencintai dia dari sebelumya, namun menjadi Muslim jauh lebih penting dari pada bersama seseorang dan kami belum menikah," ungkap Farrell.
Pada 1999 ia menjadi Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim di kampusnya. Setiap hari ia menghadiri majelis taklim dan sering mendatangai seminar. Ia mulai memiliki seseorang yang menjadi tempat bertanya dan membangun hubungan dengan teman-teman Muslim lain.
Pergi Haji
Pada tahun 2000 Farrell melaksanakan ibadah Haji. Sebuah pengalaman yang tak pernah ia lupakan. Ia mengunjungi Madinah dan lingkungan di sekitarnya. "Satu hal yang saya sadari Haji adalah kebenaran tentang Tuhan dan sejarah Islam. Selama ini saya mungkin hanya bisa mengetahui dari buku mengenai tempat dan orang-orang, di sana saya melihat dengan mata sendiri keajaiban sejarah Islam. Saya seperti hidup dalam sejarah. Saya merasa Hadis-hadis itu bangkit dan menjelma. Saya seperti menyaksikan sahabat di atas puncak bukit. Saya mencium bau perang Badar. Saya menghirup udara yang dulu juga dihirup Rasul," tutur Farrell.
Meski ia sendiri tanpa istri dan keluarga, Farrell menyadari Islam adalah kehidupan. "Bukan hanya cara hidup tapi kehidupan itu sendiri. Saya memahami Islam bukan sekedar agama, karena agama dapat dibiaskan. Saya memahami bahwa Muslim bukanlah Islam dan Islam tak bisa dinilai karena aksi Muslim. Muslimlah yang dihakimi oleh nilai-nilai Islam.
Farrell selalu bermimpi bekerja di sektor bantuan yang meringankan dan menolong beban orang lain. Kini Farrell bekerja untuk Global Relief Fondation dan telah bergabung selama setahun
Dalam sebuah essay, Farrell menulis, "Sebanyak yang bisa saya tuturkan, tak ada yang dapat memaparkan isi terdalam hati saya. Saya hanya menyebut sedikit kendala yang saya hadapi. Saya tahu banyak orang di luar sana mengalami kesulitan lebih banyak, mungkin lebih buruk lagi. Tujuan saya berbagi adalah untuk mengatakan bahwa saya memahami kesulitan yang dialami mereka di sana, Wassalamu'alaikum"
"Dengan keluarga beranggotakan 10 orang, sulit bagi ayah saya untuk menopang hidup sesuai dengan cara yang paling diinginkan,'tuturnya.
Masa muda yang sulit
Ayah Farrell --berdarah campuran Jerman dan Irlandia--adalah pekerja keras tapi juga pemabuk. Meski kerap memukuli ibunya, arrell mengaku masih mencintai ayahnya.
Setiap kali pulang dalam kondisi mabuk dan kesal terhadap sesuatu ia akan mendatangi Farrell dan adik-adinya serta menimpakan semua lewat pukulan hingga tak ada yang bisa dilakukan. Farrell kerap tak bisa berjalan atau bernafas gara-gara siksaan tadi. Begitu pun bila kakak lakinya mengoceh dan jengkel ia pun akan menerima serangan fisik. "Itulah sebagian besar masa kecil saya." kenang Farrell
Masuk masa remaja, semua yang ada di sekitar Farrell mulai menggoda, teman wanita, minuman, klub malam, obat-obatan dan yang lain. "Tapi entah saya tak bisa, saya melarang diri untuk terlibat dalam semua tadi. Saya hanya merasa itu tidak benar."
Salah satu adiknya ternyata adalah pengedar narkoba terbesar di Chicago. Hampir setiap hari ia membawa jenis obat-obatan ke rumah untuk dijual eceran di lingkungan sekitar. Si adik paham betul pandangan Farrell.
Begitu adiknya tak berada di rumah, Farrell membuang semua obat-obatan senilai 1000 dolar ke toilet dan mengguyurnya. Saat pulang dan mengetahui itu, adiknya, tutur Farrell, sangat bernafsu membunuhnya. "Ia mungkin akan membunuh saya bila memiliki kesempatan. Tentu saya dibela orangtua karena saya lebih tua dan saya dianggap harus mengajarinya untuk lebih baik.
Pencarian Pengetahuan
Semua peristiwa dalam masa kecil hingga remaja membuat Farrell menyadari betapa rapuh kehidupan. "Saya tak ingin mati sebagai idiot, jadi saya mulai belajar apa pun dan semuanya." tutur Farrell.
"Satu hal yang patut diketahui tentang keluarga saya, mereka sangat kompetitif terhadap satu dan yang lain. Begitu mereka melihat salah satu anggota lebih maju maka mereka ingin menghentikan anda dari jalur dan membuat anda tak bisa melangkah lebih maju," ujarnya.
Mengetahui antusias Farrell, orangtuanya cemas. Mereka mengkhawtirkan ia akan tercuci otak atau mengikuti aliran atau mengkultuskan sesorang. Mereka benar. Pada 1994, Farrell menjadi Nazi. Ia mengaku saat itu menyukai fakta bahwa Hitler memiliki kendali atas ribuan orang. "Menjadi Nazi, membuat saya merasa penting, menjadi seseorang." Untuk satu ini, ayahnya tak menentang, justru senang dengan seluruh pemikiran Farrell.
Ada alasan mengapa ayah Farrell suka dengan gagasan Nazi. Sedikit ke belakang pada 1960-an, ketika Martin Luther King Jr. mulai membakar semangat orang-orang dengan 'mimpinya', ayah Farrell menrencanakan menyingkirkan semua warga kulit hitam dari area pertanian Chicago.
Satu fakta, ketika Martin Luther King Jr bersama pendukungnya turun ke jalan di sisi barat Chicago, ayahnya telah mengorganisir massa. Geng itu tak hanya membuat kulit hitam keluar kota, tetapi juga memicu perang antara kulit putih dan kulit hitam. Hari itu pula, ayah Farrell menghantam hidung Martin Luther King dengan batu bata, dan hingga kini, tutur Farrell, ia selalu berkoar-koar tentang itu.
Lama setelah itu, tahun 1997, keluarganya beserta Charles Mason memulai lagi misi rahasia. Farrell berda di sana ketika mereka mengorganisir serangan terhadap bocah kulit hitam berusia 11 tahun yang tak sengaja berjalan di lingkungan kulit putih Chicago. Mereka, tutur Farrel, bisa membunuh si bocah setelah menganiayanya habis-habisan, namun memilih meninggalkan ia berdarah-darah sebagai tanda peringatan. Setelah menyaksikan itu, Farrell merasa gagasan Nazi dan semua berbau ras tak lagi cocok dengannya.
Titik Balik
Pada 1995, Farrell bertemu dengan wanita pertama yang membuat ia jatuh cinta. Meski ia memiliki kesempatan untuk berbuat apa pun dengan gadis tersebut, lagi-lagi ia melarang dirinya. "Saya tidak bisa, saya tak membolehkan diri saya untuk memiliki hubungan intim dengan seseorang yang tidak saya nikahi." ujarnya.
Beberapa bulan setelah itu ia melamar kekasihnya. Mereka bertunangan tanpa sekalipun berhubungan seksual, sesuatu yang tidak biasa di kalangan barat. "Kami berdua paham bahwa akan banyak masalah bila kami lakukan itu," tutur Farrell.
Saat bersama kekasihnya ia mulai lebih fokus. Farrell terus belajar dan belajar. "Saat itu saya merasa ada sesuati yang hilang dan mulai menyadari kehidupan dan tujuan saya hidup, hanya saja saya tak bisa menunjuk pasti," tutur Farrell.
Semakin ia membaca, semakin besar pula upaya orang tuanya untuk menariknya mundur, seperti yang ia tuturkan soal keluarganya yang kompetitif. Orangtua Farrell mulai melakukan serangan mental. "Mereka mengatakan betapa buruknya saya waktu kecil dan bagaimana saya tidak berterima kasih sebagai anak atas makanan dan tempat berteduh yang mereka berikan untuk saya," tutur Farrell.
"Orang tua saya tak pernah lulus SMA. Mereka hanya sampai tingkat 8 lalu putus sekolah saat tingkat 9. Karena itu pendidikan orang tua saya terbatas. Semua yang mereka tahu hanyalah berdasar apa yang mereka lihat di TV dan perilaku orang-orang," kata Farrell.
Namun bukan berarti Farrell tak menghargai orangtuannya. "Saya memiliki rasa terima kasih besar terhadap apa yang mereka lakukan. Saya menghargai disiplin mereka," ungkap Farrell. Atas didikan mereka pula ia sudah mendapat pekerjaan pertama pada usia 12 tahun. Pada usia 13 ia sudah bekerja penuh waktu dengan pendapatan setara yang dihasilkan orangtuanya.
Pada usia 16 tahun ia telah memiliki apartemen pertamanya. Ia memasak, membersihkan rumah dan mencuci pakaian, berbelanja sendiri. Farrell tengah bersiap menikah. Saat itu ia mengikuti pandangan orang tuanya yang menilai seseorang berdasar perbuatannya "Saya sepakat dengan orang tua saya, hingga kini," akunya.
"Namun itu pula yang membuat saya membenci Muslim dan Islam. Saya sungguh benar-benar membenci Muslim dalam tingkat yang tak anda percayai," ujarnya. Karena media? "Ya itu bagian dari propaganda, namun sebagian besar saya menilai itu karena ulah Muslim. Mereka kadang adalah pihak yang merusak reputasi Islam sehingga membenci kami. Itu menyedihkan tapi itu faktanya," ujar Farrell yang telah memeluk Islam.
Hadiah Paling Berharga
Pada 1997, tunangan Farrell memberinya Al Qur'an sebagai hadiah. "Semata-mata karena saya begitu suka membaca," tuturnya. "Sekedar memberitahu bagaimana dulu saya membenci Muslim, begitu ia memberi Al Qur'an kami bertengkar hebat dan kami putus hingga beberapa saat," kenang Farrell.
Akhirnya suatu malam ia mengambil kitab suci tersebut dan mulai membacanya. "Saya masih ingat betul saat itu, rumah begitu bersih, udara terasa enak dan nyaman, sorot lampu sungguh pas untuk membaca. Itu Alquran versi terjemahan Abdullah Yusuf Ali," tutur Farrell.
Ia membaca bagian awalan, tiga halaman pertama, dan, "Saya mulai menangis seperti bayi. Saya menangis dan menangis. Saya tak bisa menahan diri. Seketika saya tahu bahwa inilah yang saya cari selama lini. Saya seperti ingin memukuli diri sendiri, mengapa tak segera menemukan sejak dulu," ujar Farrell.
Ia merasa tersihir oleh bait-bait Al Qur'an. "Ini bukan Islam yang saya kenal. Ini bukanlah Arab, bukan sesuatu yang buruk yang saya pikir sebelumnya," kata Farrel. Ia merasa hidupnya dibungkus sepenuhnya dalam halaman-halaman tadi. Farrell menjumpai seperti membaca jiwanya dalam Alqur'an. "Sungguh indah, tetapi juga membuat saya menyesali diri. Setelah itu saya kembali menjalin hubungan dengan tunangan saya dan mendiskusikan banya hal secara dewasa," ujarnya. Tak lama setelah itu, Farrel dan tunangannya memeluk Islam dan beritikad untuk hidup sebagai Muslim, meski itu berarti tinggal terpisah.
Begitu orangtua Farrel mengetahui itu, pecahlah kemarahan mereka. "Ayah saya mengancam membunuh saya. Ia berkata, 'Kamu lahir Katholik, jadi tolong Tuhan, saya akan memastikan kamu mati sebagai Katholik,'". Reaksi ibu Farrell pun setali tiga uang.
Saat itu Farrell berhasrat besar untuk kuliah. "Saya ingin menempuh pendidikan formal. Saya dapat pekerjaan dan membayar semua kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan saya hingga ke perguruan tinggi," tuturnya.
Saat itu pula ia didepak keluar dari rumah dan Farrell pun tinggal di jalan selama 6 bulan. "Saya menyantap makanan dari tempat sampah, tidur di luar saat malam-malam terdingin, waktu itu tahun 1999," tutur Farrell.
Namun itu semua tak menyurutkan semangat Farrell. "Saya berjalan bermil-mil untuk bisa bersama Muslim. Saya dikejar keluar dari lingkungan tertentu oleh polisi hanya gara-gara masuk ke kawasan kulit hitam demi mengikuti shalat Jumat. Saya dilempari batu, diludahi, dikasari. Saya hanya ingin bisa bersama Muslim lain,"
Hingga suatu hari ia bertemu seorang teman yang kemudian membantunya. Si teman berkata, bila Farrell bisa membangun sebuah masjid dalam toko knalpotnya, maka ia bisa tinggal di sana hingga menemukan tempat lebih layak. Farrell pun setuju.
Toko itu memiliki ruang di tingkat dua, sekitar 186 meter persegi yang dipakai untuk gudang. Setiap hari Farrell menghabiskan waktu berjam-jam untuk membuang sampah dan memindahkan pasokan inventaris. Dalam satu bulan ia telah menggarap setengah ruangan, membangun dinding, menambah jendela, memasang satu pintu, menggelar karpet, mengecat dan akhirnya membuka masjid toko knalpot pertama di Kota Chicago. "Saya belajar pertukangan dari paman saya. Itu adalah pekerjaan penuh waktu yang pertama." tuturnya.
Sekitar 6 bulan berikut ia berhasil mendapat satu pekerjaan lebih bagus dan pindah bersama dua teman ke apartemen baru. Tunangannya tak ada lagi dalam adegan hidupnya. "Kami telah setuju untuk hidup sebagai Muslim, bukan seperti orang bodoh. Saya lebih mencintai dia dari sebelumya, namun menjadi Muslim jauh lebih penting dari pada bersama seseorang dan kami belum menikah," ungkap Farrell.
Pada 1999 ia menjadi Presiden Asosiasi Mahasiswa Muslim di kampusnya. Setiap hari ia menghadiri majelis taklim dan sering mendatangai seminar. Ia mulai memiliki seseorang yang menjadi tempat bertanya dan membangun hubungan dengan teman-teman Muslim lain.
Pergi Haji
Pada tahun 2000 Farrell melaksanakan ibadah Haji. Sebuah pengalaman yang tak pernah ia lupakan. Ia mengunjungi Madinah dan lingkungan di sekitarnya. "Satu hal yang saya sadari Haji adalah kebenaran tentang Tuhan dan sejarah Islam. Selama ini saya mungkin hanya bisa mengetahui dari buku mengenai tempat dan orang-orang, di sana saya melihat dengan mata sendiri keajaiban sejarah Islam. Saya seperti hidup dalam sejarah. Saya merasa Hadis-hadis itu bangkit dan menjelma. Saya seperti menyaksikan sahabat di atas puncak bukit. Saya mencium bau perang Badar. Saya menghirup udara yang dulu juga dihirup Rasul," tutur Farrell.
Meski ia sendiri tanpa istri dan keluarga, Farrell menyadari Islam adalah kehidupan. "Bukan hanya cara hidup tapi kehidupan itu sendiri. Saya memahami Islam bukan sekedar agama, karena agama dapat dibiaskan. Saya memahami bahwa Muslim bukanlah Islam dan Islam tak bisa dinilai karena aksi Muslim. Muslimlah yang dihakimi oleh nilai-nilai Islam.
Farrell selalu bermimpi bekerja di sektor bantuan yang meringankan dan menolong beban orang lain. Kini Farrell bekerja untuk Global Relief Fondation dan telah bergabung selama setahun
Dalam sebuah essay, Farrell menulis, "Sebanyak yang bisa saya tuturkan, tak ada yang dapat memaparkan isi terdalam hati saya. Saya hanya menyebut sedikit kendala yang saya hadapi. Saya tahu banyak orang di luar sana mengalami kesulitan lebih banyak, mungkin lebih buruk lagi. Tujuan saya berbagi adalah untuk mengatakan bahwa saya memahami kesulitan yang dialami mereka di sana, Wassalamu'alaikum"
ISLAM ITU INDAH
| Sabtu, 23 Juli 2011 , 08:13:00 TENGGARONG – Syiar agama dapat menempuh banyak hal, tidak semata-mata melalui ceramah, namun dapat melalui kegiatan lainnya seperti perlombaan yang berkaitan dengan agama.Yang jelas masih senantiasa berpegang teguh pada kaidah-kaidah keislaman, bukan semata-mata untuk menarik minat umat saja. Demikian dikatakan Staf Ahli Bidang Pembangunan Ahmad Bahkriansyah di Sekretariat Gerbang saat menutup Festival Maulid Habsyi, Qasidah Rebana dan Busana Muslim yang diadakan Yayasan Majelis Taklim Al Humairoh Kabupaten Kutai Kartanegara, Rabu (20/7). Ahmad mengajak kepada seluruh peserta dan para undangan yang hadir agar meningkatkan keimanan dengan terus berusaha mempelajari, menggali dan mendalami Islam agar semakin mencintai Sang Khaliq serta para rasul-Nya. “Islam itu anggun dan santun melalui berbagai busana muslim yang indah dan sopan. Islam itu indah sebagaimana diperlihatkan di qasidah rebana,” katanya. Sementara itu Ketua Umum Yayasan Majelis Taklim Al Humairoh Hj Noor Aida mengatakan, acara ini diadakan dalam rangka memeriahkan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dan menyambut tibanya bulan suci Ramadan. Melalui kegiatan seni budaya yang bernuansakan Islam di tengah-tengah masyarakat, Aida mengharapkan kegiatan ini bisa meningkatkan syiar Islam. Dalam kegiatan tersebut keluar sebagai pemenang peragaan busana muslim kategori anak anak diraih Egi Wahyudi, juara dua M Rizqy Hilmi dan juara tiga Mufty Wahyudi. Di kategori putri juara pertama A Charlita Mulia Hakim, juara kedua Nadila Lestari dan juara ketiga Tiara Miftahun Nisa. Sedangkan kategori busana muslim remaja putra juara pertama diraih Yonaz Firnando, juara kedua Dolly dan juara tiga M.Fadly. Di kategori putri juara pertama A. Syarifah Salbiah Shobirin, juara kedua Fatmawati dan ketiga Fahrunnisa Noor A . Selain itu terpilih juga pemenang Maulid Habsy. Di kategori putra diraih grup Nurfadilah dari Muara Kaman, juara dua Ma PPKP Riabatul Khair dari Tenggarong dan Al Mizan dari Loa Kulu di posisi ketiga. Untuk putri juara pertama grup Assa’adah dari Sebulu, kedua Alhikmah Arrosyidah dari Sebulu dan ketiga H Muhamad Sadjid dari Tenggarong. Kategori Rebana juara pertama diraih MA PPKP Ribatul Khail B, juara kedua Abdi Karya dan juara ketiga MA PPKP Ribatul Khail A. (hmp10) |
popes nw padasuka yang kucintai......
belajar agama dengan kami:
PONPES NW PADASUKA
OLEH M. FAIDUL AKBAR
DASAR DASAR AGAMA ISLAM
Kita mempunyai cita-cita di dunia, namun kita juga harus mempunyai cita-cita di akhirat, jangan hanya cita-cita di dunia saja atau hanya akhirat saja. Semakin baik cita-citamu maka semakin baik pula Allah membalasnya. Banyak cita-cita mulia yang ingin terwujudkan misalnya cita-cita ingin makmur, cita-cita ingin membantu orang lain dan para fuqara’, cita-cita untuk membangun masjid atau majelis-majleis ta’lim dan lain sebagainya, hal-hal seperti itu sangat baik dan mulia. Dan teman-teman kita yang akan menghadapi ujian semoga diberi kelulusan dan kesuksesan, jika lulus namun tidak su...kses lebih baik tidak lulus namun sukses, namun semoga semuanya diberi kelulusan dan kesuksesan, amin. Maka jangan merasa takut untuk menghadapi ujian, tenangkan hati dan perbanyak dzikir serta belajar dengan baik maka masa depanmu akan terjamin oleh yang memilikinya.
PONPES NW PADASUKA
OLEH M. FAIDUL AKBAR
DASAR DASAR AGAMA ISLAM
Kita mempunyai cita-cita di dunia, namun kita juga harus mempunyai cita-cita di akhirat, jangan hanya cita-cita di dunia saja atau hanya akhirat saja. Semakin baik cita-citamu maka semakin baik pula Allah membalasnya. Banyak cita-cita mulia yang ingin terwujudkan misalnya cita-cita ingin makmur, cita-cita ingin membantu orang lain dan para fuqara’, cita-cita untuk membangun masjid atau majelis-majleis ta’lim dan lain sebagainya, hal-hal seperti itu sangat baik dan mulia. Dan teman-teman kita yang akan menghadapi ujian semoga diberi kelulusan dan kesuksesan, jika lulus namun tidak su...kses lebih baik tidak lulus namun sukses, namun semoga semuanya diberi kelulusan dan kesuksesan, amin. Maka jangan merasa takut untuk menghadapi ujian, tenangkan hati dan perbanyak dzikir serta belajar dengan baik maka masa depanmu akan terjamin oleh yang memilikinya.
Ingat masa depan kita ada yang memilikinya Dialah Allah subhanahu wata’ala, apakah masa depan kita akan baik dan cerah atau sebaliknya, dan Dia telah menjanjikan kepada sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa jika muncul generasi orang-orang yang baik di akhir zaman maka di saat itulah akan muncul kemakmuran.
Ketahuailah bahwa keluasan duniawi tiadalah layak dan baik kecuali dicita-citakan untuk hal yang baik maka hal itu akan menjadi baik. Diriwayatkan dalam kitab Qabasunnuur Al Mubin yang ditulis oleh guru mulia Al Hafizh Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Hafizh, ringkasan dari Rub’u Al Muhlikaat Ihyaa’ Ulumuddin oleh Al Imam Ghazali, bahwa sayyidah Zainab binti Jahsy, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam suatu hari diberi hadiah oleh sayyidina Umar bin Khattab RA, berupa
hadiah uang yang banyak, maka setelah ditanya oleh sayyidah Zainab, beliau ( sayyidina Umar )menjawab : “ini adalah hadiah untukmu wahai istri rasulullah”, maka ia pun membagi-bagikannya kepada keluarganya, tetangganya dan orang-orang terdekatnya kemudian mengangkat kedua tangannya dan berdoa : “Wahai Allah jangan jadikan setelah hadiah ini ada hadiah lagi untukku, sehingga nafkahku berasal dari hadiah orang lain”, akhirnya dialah orang pertama yang yang wafat menyusul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah putrinya sayyidatuna Fathimah Az Zahra.
Demikian keadaaan yang dimuliakan Allah subhanahu wata’ala, namun tidak sedikit dari para sahabat yang dilimpahi kenikmatan dan keluasan di dunia, seperti sayyidina Abdurrahamn bin ‘Auf RA, sayyidina Utsman bin Affan RA, dan banyak lagi para sahabat yang lainnya dan mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Allahumma shalii ala nuril anwar wa sirrill ashar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasari sayyidina wa maulana Muhammadinil mukhtar wa alihil athhar wa ashabihil akhyar 'adada ni'amillah wa ifdhalih
http://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=10150261674151257&id=204076471256
Baca Pembahasan Yang Terkait Di Bawah Ini...
HIKMAH
- RASULULLAH MENJAWAB SHOLAWAT KITA KEPADANYA
- NABI MUHAMMAD YANG MELUNASI HUTANG UMATNYA
- SHOLAT SEBAGAI TANDA KASIH SAYANG ALLAH KEPADA KITA
- BERATNYA TIMBANGAN LAFAL "SUBHANALLAH"
- PENDUDUK YAMAN YANG DIBERKATI NABI MUHAMMAD SAW
- SAYYIDINA ALI DIMULIAKAN JIBRIL KARENA MENGHORMATI KAKEK YAHUDI
- AMIRUL MUKMININ MEMULIAKAN MAKAM NABI SAW
- MUSLIM TERAKHIR YANG MASUK SYURGA
- Memberikan Maaf Adalah Infaq Terbesar
- Beruntungnya Para Pecinta Nabi Muhammad
- MENGANIAYA DIRI SENDIRI = DURHAKA KEPADA ALLAH
- ULANG TAHUN SHOLAT
- SESEORANG BERSAMA YANG DICINTAINYA
- 7 Manusia Yang Mendapatkan Perlindungan Allah SWT
- 20 Tanya Jawab Rasulullah Dengan Iblis
- WASIAT LUQMAN KEPADA ANAK-ANAKNYA
- DI BAWAH LINDUNGAN KA'BAH (SEBUAH KISAH NYATA)
- RAHMAT ALLAH SWT
- MENGABAIKAN DUNIA ATAU MENOLAKNYA
- HUKUM TERTAWA
- KELEBIHAN ORANG FAKIR
- TAUBAT
- KEIKHLASAN
- Ceramah al-Habib Umar bin Hafidz di Khaul Cidodol 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
Balas
Balas
Balas
Balas
Balas